Senin, 11 November 2013

penyuluhan GGA/GGK


TUGAS LAB.

SATUAN PENYULUHAN
GAGAL GINJAL AKUT DAN GAGAL GINJAL KRONIK
OLEH KELOMPOK 3
SANDRA DEWI
RIZKA AYU PRATIWI SAMAD
RAMIYATI ODE MA’SUM
LINDA TRISNA AYU. S
EMIL SYAHPUTRA
NUR HASRIANI NATALIA
POLSIANA DENGU
HAJRIANTI
HERIATI MUDI

KELAS E-4
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MANDALA WALUYA
KENDARI
2013


SATPEL (SATUAN PENYULUHAN) GAGAL GINJAL AKUT /GAGAL GINJAL KRONIK

1.    POKOK BAHASAN             : GAGAL GINJAL AKUT DAN GAGAL GINJAL KRONIK

2.    SUB POKOK BAHASAN      :          1. PENGERTIAN GAGAL GINJAL AKUT
/KRONIK
                                                            2.  PENYEBAB GAGAL GINJAL AKUT
/KRONIK
                                                            3. GEJALA GAGAL GINJAL AKUT
/KRONIK
                                                     4. PEMERIKSAAN LAB GGA/GGGK
                                                           
5. PENATALAKSANAAN GAGAL GINJAL AKUT/KRONIK

3.   
TUJUAN                             : UNTUK MENAMBAH WAWASAN TENTANG GAGAL GINJAL 
                AKUT  MAUPUN KRONIK

4.    TEMPAT              
            : LAB. STIKES MW

5.    WAKTU                             :

6.    MATERI PENYULUHAN    
TERLAMPIR

7.    EVALUASI                         :           1. APA YANG DIMAKSUD G
GA/GGK?
                                                            2. APA YANG MENYEBABKAN G
GA/GGK?
3. BAGAIMANA GEJALA GGA/GGK?
4. APA SAJA PEMERIKSAAN LAB. GGA/GGK?
5. APA PENATALAKSANAAN GGA/GGK?

8.    PENUTUP    :   
 Demikian penyuluhan hari ini, bila ada kesalahan yang sengaja maupun tidak disengaja dalam penyampaian, saya mohon maaf. Terimakasih atas perhatiannya.









LAMPIRAN MATERI PENYULUHAN


GAGAL GINJAL AKUT
/GAGAL GINJAL KRONIK


1.   
PENGERTIAN

a.   
Gagal ginjal akut
 .
Adalah keadaan klinik yang ditandai dengan pengurangan tiba-tiba GFR (Glomerulo Filtration Rate) dan perubahan kemampuan fungsional ginjal untuk mempertahankan – eksresi air yang cukup untuk keseimbangan  didalam tubuh.
Gagal ginjal terjadi ketika ginjal tidak mampu mengangkut sampah metabolik tubuh atau ginjal gagal melakukan fungsi regulernya.

Fungsi Ginjal:

Faal glomerulus berfungsi untuk filtrasi darah.
Faal tubulus berfungsi untuk mengatur aliran dan konsentrasi urin. Mengatur keseimbangan kesimbangan asam basa, mengatur pengeluaran elektrolit,  asam amino dan asam organic. Pada gagal ginjal akut gangguan utama terletak pada faal tubulus, tetapi faal tubulus mungkin terganggu juga.

b.  gagal ginjal kronik

Gagal Ginjal Kronik (CRF) adalah gangguan fungsi ginjal yang menahun bersifat progresif dan irreversibel. Proses penyakit ini menyebabkan kerusakan pada nefron dan digantikan dengan jaringan parut sehingga menyebabkan tubuh tidak mampu mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit serta  metabolik dan dapat menyebabkan suatu keadaan yang memburuk pada fungsi ginjal yang ditandai dengan berkurangnya output urine yang berlangsung lama dan menahun serta adanya peningkatan ureum dan kreatinin dalam darah

2. ETIOLOGI

a. gagal ginjal akut

Tiga kategori utama kondisi penyebab gagal ginjal akut adalah :


1)    Kondisi Pre Renal (hipoperfusi ginjal)
Kondisi pra renal adalah masalah aliran darah akibat hipoperfusi ginjal dan turunnya laju filtrasi glumerulus. Kondisi klinis yang umum yang menyebabkan terjadinya hipoperfusi renal adalah :
Hipovolemia seperti pada kasus:
ü  Perdarahan  yang hebat,
ü  Dehidrasi, berkurangnya  volume cairan ekstra sel.
ü  Luka kabar.
ü  Hipotensi.
ü   Gagal jantung kongestif

2)    Kondisi Intra Renal (kerusakan aktual jaringan ginjal)

Faktor ini merupakan penyebab kasus yang terbanyak. Terjadi kerusakan di glomerulus atau tubulus sehingga faal ginjal langsung terganggu. Prosesnya berlangsung cepat dan mendadak tetapi dapat juga berlangsung perlahan-lahan dan akhirnya mencapai stadium uremia. Kelainan ginjal ini dapat merupakan kelanjutan dari hipoperfusi prarenal dan eskemia kemudian menyebabkan  nekrosis jaringan ginjal. Gagal ginjal akut adalah kerusakan glumerulus atau tubulus ginjal yang dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini :

ü  Reaksi transfusi yang parah.
ü  Koagulasi intravaskuler seperti pada rejatan sepsis, dan rejatan hemoragik.
ü  Glomerulopati akut seperti pada glumerulonefretis akut.  Penolakan akut maupun kronis donor ginjal.
ü  Penyakit neoplastik akut seperti: leukemia,limfoma,  dan tumor yang menginfiltrasi ginjal dan menimbulkan kerusakan.
ü  Nekrosis ginjal akut, misalnya oleh karena nekrosis tubulus akut akibat renjatan  dan iskemik lama, Agen nefrotoksik, Pioelonefritis akut & kronis, Agen kontras radiopaque, Logam berat (timah, merkuri)
ü  Bahan kimia dan pelarut (arsenik, etilen glikol, karbon tetraklorida)

3)      Kondisi Post Renal (obstruksi aliran urin)

Kondisi pasca renal yang menyebabkan gagal ginjal akut biasanya akibat dari obstruksi di bagian distal ginjal. Obstruksi ini dapat disebabkan oleh kondisi-kondisi sebagai berikut :
ü  Batu traktus urinarius
ü  TumoR
ü  BPH
ü  Striktur
ü  Bekuan darah

b. gagal ginjal kronik

Penyebab gagal ginjal kronik cukup banyak tetapi untuk keperluan klinis dapat dibagi dalam 2 kelompok :
a.      Penyakit parenkim ginjal
Ø  Penyakit ginjal primer : Glomerulonefritis, Mielonefritis, Ginjal polikistik, Tbc ginjal
Ø  Penyakit ginjal sekunder :  Nefritis lupus, Nefropati, Amilordosis ginjal, Poliarteritis nodasa, Sclerosis sistemik progresif, Gout, DM.

b.      Penyakit ginjal obstruktif : Pembesaran prostat, Batu saluran kemih, Refluks ureter,

Secara garis besar penyebab gagal ginjal dapat dikategorikan
Ø  Infeksi yang berulang dan nefron yang memburuk
Ø  Obstruksi saluran kemih
Ø  Destruksi pembuluh darah akibat diabetes dan hipertensi yang lama
Ø  Scar pada jaringan dan trauma langsung pada ginja


3.  GAMBARAN KLINIK.

  1. Gagal ginjal akut

Secara klinik gagal ginjal akut dibagi dalam 3 fase yakni:

1.    Fase oliguri./ anuria.
Pada periode ini volume urin kurang dari 400 ml/24 jam, disertai dengan peningkatan konsentrasi serum dari substansi yang biasanya diekskresikan oleh ginjal (urea, kreatinin, asam urat, kalium dan magnesium). Pada tahap ini untuk pertama kalinya gejala uremik muncul, dan kondisi yang mengancam jiwa seperti hiperkalemia terjadi. Bila pada fase ini tertolong jumlah urin akan kembali normal.

2.    Fase poliuri.
Pasien menunjukkan peningkatan jumlah urin secara bertahap, disertai tanda perbaikan glumerulus. Deuresis dapat timbul mendadak atau urin bertambah tiap hari hingga mencapai poliuria.  Deuresis ini dapat diakibatkan oleh kadar ureum tinggi didalam darah ( deuresis oasmotik). Disamping faal tubulus belum baik juga oleh pengeluaran cairan tubuh yang berlebihan. Pada fase oliguri kadar natrium menurun dalam darah karena retensi cairan dalam tubuh, tetapi pada fase  deuresis terjadi hiponatremia oleh karena banyak yang hilang karena tubulus yang rusak. Nilai laboratorium berhenti meningkat dan akhirnya menurun. Tanda uremik mungkin masih ada, sehingga penatalaksanaan medis dan keperawatan masih diperlukan. Pasien harus dipantau ketat akan adanya dehidrasi selama tahap ini. Jika terjadi dehidrasi, tanda uremik biasanya meningkat. Fase deuresis ini berlangsung kira-kira 2 minggu.

3.    Fase Penyembuhan.
Pase poliuria akhirnya berkurang demikian juga gejala uremia. Dalam beberapa minggu faal glomerulus dan tubulus membaik tetapi masih ada kelainan kecil. Yang paling lama terganggu adalah daya konsentrasi urin. Fase ini merupakan tanda perbaikan fungsi ginjal dan berlangsung selama 3 - 12 bulan.
Nilai laboratorium:
ü  GFR normal : 75-165 ml/menit.
ü  Ureum darah : 20-40 mg %.
ü  Kretinin :    Lk= 0,6-1,3 mg %            Pr= 0,4-1,1 mg%.

4.   MANIFESTASI KLINIK

a. gagal ginjal akut
Perubahan  haluaran urine (haluaran urin sedikit, mengandung darahØ dan gravitasinya rendah (1,010) sedangkan nilai normalnya adalah 1,015-1,025)
ü  Peningkatan BUN, creatininØ
ü  Kelebihan volume cairanØ
ü  HiperkalemiaØ
ü  Serum calsium menurun, phospat meningkatØ
ü  Asidosis metabolikØ
ü  AnemiaØ
ü  LetargiØ
ü  Mual persisten, muntah dan diareØ
ü  Nafas berbau urinØ
ü  Manifestasi sistem syaraf pusat mencakup rasa lemah, sakit kepala, kedutan otot dankejangØ

b.      gagal ginjal kronis
ü  Gangguan pernafasan
ü  Udema
ü  Hipertensi
ü  Anoreksia, nausea, vomitus
ü  Ulserasi lambung
ü  Stomatitis
ü  Proteinuria
ü  Hematuria
ü  Letargi, apatis, penurunan konsentrasi
ü  Anemia
ü  Perdarahan
ü  Turgor kulit jelek, gatal gatal pada kulit
ü  Distrofi renal
ü  Hiperkalemia
ü  Asidosis metabolik

5.  PEMERIKSAAN LAB.

ü  Urinalisis
ü  Kimia darah
ü  IVP, USG, CT

6. PENATALAKSANAAN.

1)    Mempertahankan keseimbangan cairan
Penatalaksanaan keseimbangan cairan didasarkan pada pengukuran berat badan harian, pengukuran tekanan vena sentral, konsentrasi urin dan serum, cairan yang hilang, tekanan darah, dan status klinis pasien. Masukan dan haluaran oral dan parenteral dari urin, drainase lambung, feses, drainase luka, dan perspirasi dihitung dan digunakan sebagai dasar untuk terapi penggantian cairan.

2)    Penanganan hiperkalemia
Peningkatan kadar kalium dapat dikurangi dengan hal-hal berikut :
ü  Glukosa, insulin, kalsium glukonat, natrium bikarbonat (sebagai tindakan darurat sementara untuk menangani heperkalemia)
ü  Natrium polistriren sulfonat (kayexalate) (terapi jangka pendek dan digunakan bersamaan dengan tindakan jangka panjang lain)
ü  Pembatasan diit kalium
ü  Dialisis

3)    Menurunkan laju metabolism
ü  Tirah baring
ü  Demam dan infeksi harus dicegah atau ditangani secepatnya

4)    Pertimbangan nutrisional
ü  Diet protein dibatasi sampai 1 gram/kg selama fase oligurik.
ü  Tinggi karbohidrat
ü  Makanan yang mengandung kalium dan fosfat (pisang, jus jeruk, kopi) dibatasi, maksimal 2 gram/hari
ü  Bila perlu nutrisi parenteral
5)    Merawat kulit
ü  Masase area tonjolan tulang
ü  Alih baring dengan sering
ü  Mandi dengan air dingin

6)    Koreksi asidosis
ü  Memantau gas darah arteri
ü  Tindakan ventilasi yang tepat bila terjadi masalah pernafasan
ü  Sodium bicarbonat, sodium laktat dan sodium asetat dapat diberikan untuk mengurangi keasaman

7)    Dialisis
ü  Dialisis dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi gagal ginjal akut yang serius, seperti hiperkalemia, perikarditis, dan kejang. Dialisis memperbaiki abnormalitas biokimia, menghilangkan kecenderungan perdarahan, dan membantu penyembuhan luka. Hal-hal berikut ini dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk segera dilakukan dialisis :
ü  Volume overload
ü  Kalium > 6 mEq/L
ü  Asidosis metabolik (serum bicarbonat kurang dari 15 mEq/L)
ü  BUN > 120 mg/dl
ü  Perubahan mental signifikan