TUGAS LAB.
SATUAN
PENYULUHAN
GAGAL GINJAL
AKUT DAN GAGAL GINJAL KRONIK
OLEH KELOMPOK
3
SANDRA DEWI
RIZKA AYU PRATIWI
SAMAD
RAMIYATI ODE MA’SUM
LINDA TRISNA AYU. S
EMIL SYAHPUTRA
NUR HASRIANI NATALIA
POLSIANA DENGU
HAJRIANTI
HERIATI MUDI
KELAS E-4
PROGRAM STUDI
KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU
KESEHATAN
MANDALA WALUYA
KENDARI
2013
SATPEL (SATUAN PENYULUHAN) GAGAL GINJAL AKUT /GAGAL GINJAL KRONIK
1.
POKOK BAHASAN : GAGAL GINJAL AKUT DAN GAGAL GINJAL KRONIK
2. SUB POKOK BAHASAN : 1. PENGERTIAN GAGAL GINJAL AKUT/KRONIK
2. PENYEBAB GAGAL GINJAL AKUT/KRONIK
3. GEJALA GAGAL GINJAL AKUT/KRONIK
4. PEMERIKSAAN LAB GGA/GGGK
5. PENATALAKSANAAN GAGAL GINJAL AKUT/KRONIK
5. PENATALAKSANAAN GAGAL GINJAL AKUT/KRONIK
3. TUJUAN : UNTUK MENAMBAH WAWASAN TENTANG GAGAL GINJAL
AKUT MAUPUN KRONIK
4. TEMPAT : LAB. STIKES MW
5. WAKTU :
6. MATERI PENYULUHAN : TERLAMPIR
7. EVALUASI : 1. APA YANG DIMAKSUD GGA/GGK?
2. APA YANG MENYEBABKAN GGA/GGK?
3. BAGAIMANA GEJALA GGA/GGK?
4. APA SAJA PEMERIKSAAN LAB. GGA/GGK?
5. APA PENATALAKSANAAN GGA/GGK?
8. PENUTUP :
Demikian penyuluhan hari ini, bila ada
kesalahan yang sengaja maupun tidak disengaja dalam penyampaian, saya mohon
maaf. Terimakasih atas perhatiannya.
LAMPIRAN MATERI PENYULUHAN
GAGAL GINJAL AKUT/GAGAL GINJAL KRONIK
1. PENGERTIAN
a. Gagal ginjal akut
.
Adalah keadaan klinik yang ditandai dengan pengurangan tiba-tiba GFR (Glomerulo Filtration Rate) dan perubahan kemampuan fungsional ginjal untuk mempertahankan – eksresi air yang cukup untuk keseimbangan didalam tubuh.
Gagal ginjal terjadi ketika ginjal tidak mampu mengangkut sampah metabolik tubuh atau ginjal gagal melakukan fungsi regulernya.
Adalah keadaan klinik yang ditandai dengan pengurangan tiba-tiba GFR (Glomerulo Filtration Rate) dan perubahan kemampuan fungsional ginjal untuk mempertahankan – eksresi air yang cukup untuk keseimbangan didalam tubuh.
Gagal ginjal terjadi ketika ginjal tidak mampu mengangkut sampah metabolik tubuh atau ginjal gagal melakukan fungsi regulernya.
Fungsi Ginjal:
Faal glomerulus berfungsi untuk filtrasi darah. Faal tubulus berfungsi untuk mengatur aliran dan konsentrasi urin. Mengatur keseimbangan kesimbangan asam basa, mengatur pengeluaran elektrolit, asam amino dan asam organic. Pada gagal ginjal akut gangguan utama terletak pada faal tubulus, tetapi faal tubulus mungkin terganggu juga.
b. gagal ginjal kronik
Gagal
Ginjal Kronik (CRF) adalah gangguan fungsi ginjal yang menahun bersifat
progresif dan irreversibel. Proses penyakit ini menyebabkan kerusakan pada
nefron dan digantikan dengan jaringan parut sehingga menyebabkan tubuh tidak
mampu mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit serta metabolik dan dapat menyebabkan suatu keadaan
yang memburuk pada fungsi ginjal yang ditandai dengan berkurangnya output urine
yang berlangsung lama dan menahun serta adanya peningkatan ureum dan kreatinin
dalam darah
2. ETIOLOGI
a. gagal ginjal akut
Tiga kategori utama
kondisi penyebab gagal ginjal akut adalah :
1)
Kondisi Pre Renal (hipoperfusi ginjal)
Kondisi pra
renal adalah masalah aliran darah akibat hipoperfusi ginjal dan turunnya laju
filtrasi glumerulus. Kondisi klinis yang umum yang menyebabkan terjadinya
hipoperfusi renal adalah :
Hipovolemia
seperti pada kasus:
ü
Perdarahan
yang hebat,
ü
Dehidrasi,
berkurangnya volume cairan ekstra sel.
ü
Luka kabar.
ü
Hipotensi.
ü
Gagal jantung kongestif
2)
Kondisi Intra Renal (kerusakan aktual jaringan ginjal)
Faktor ini merupakan penyebab kasus yang terbanyak. Terjadi kerusakan di glomerulus atau tubulus sehingga faal ginjal langsung terganggu. Prosesnya berlangsung cepat dan mendadak tetapi dapat juga berlangsung perlahan-lahan dan akhirnya mencapai stadium uremia. Kelainan ginjal ini dapat merupakan kelanjutan dari hipoperfusi prarenal dan eskemia kemudian menyebabkan nekrosis jaringan ginjal. Gagal ginjal akut adalah kerusakan glumerulus atau tubulus ginjal yang dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini :
ü
Reaksi
transfusi yang parah.
ü
Koagulasi
intravaskuler seperti pada rejatan sepsis, dan rejatan hemoragik.
ü
Glomerulopati
akut seperti pada glumerulonefretis akut. Penolakan akut maupun kronis
donor ginjal.
ü
Penyakit neoplastik akut seperti:
leukemia,limfoma, dan tumor yang menginfiltrasi ginjal dan menimbulkan
kerusakan.
ü
Nekrosis
ginjal akut, misalnya oleh karena nekrosis tubulus akut akibat renjatan
dan iskemik lama, Agen nefrotoksik, Pioelonefritis akut & kronis, Agen
kontras radiopaque, Logam berat (timah, merkuri)
ü
Bahan kimia
dan pelarut (arsenik, etilen glikol, karbon tetraklorida)
3)
Kondisi Post
Renal (obstruksi aliran urin)
Kondisi pasca renal
yang menyebabkan gagal ginjal akut biasanya akibat dari obstruksi di bagian
distal ginjal. Obstruksi ini dapat disebabkan oleh kondisi-kondisi sebagai
berikut :
ü
Batu traktus
urinarius
ü
TumoR
ü
BPH
ü
Striktur
ü
Bekuan darah
b. gagal ginjal kronik
Penyebab gagal ginjal kronik cukup banyak
tetapi untuk keperluan klinis dapat dibagi dalam 2 kelompok :
a. Penyakit parenkim ginjal
Ø
Penyakit ginjal primer : Glomerulonefritis, Mielonefritis, Ginjal
polikistik, Tbc ginjal
Ø
Penyakit ginjal sekunder :
Nefritis lupus, Nefropati, Amilordosis ginjal, Poliarteritis nodasa,
Sclerosis sistemik progresif, Gout, DM.
b.
Penyakit ginjal obstruktif : Pembesaran prostat, Batu saluran kemih,
Refluks ureter,
Secara garis
besar penyebab gagal ginjal dapat dikategorikan
Ø
Infeksi yang berulang dan nefron yang memburuk
Ø
Obstruksi saluran kemih
Ø
Destruksi pembuluh darah akibat diabetes dan hipertensi yang lama
Ø
Scar pada jaringan dan trauma langsung pada ginja
3. GAMBARAN KLINIK.
- Gagal ginjal akut
Secara klinik gagal
ginjal akut dibagi dalam 3 fase yakni:
1.
Fase oliguri./ anuria.
Pada periode
ini volume urin kurang dari 400 ml/24 jam, disertai dengan peningkatan
konsentrasi serum dari substansi yang biasanya diekskresikan oleh ginjal (urea,
kreatinin, asam urat, kalium dan magnesium). Pada tahap ini untuk pertama
kalinya gejala uremik muncul, dan kondisi yang mengancam jiwa seperti
hiperkalemia terjadi. Bila pada fase ini tertolong jumlah urin akan kembali
normal.
2.
Fase poliuri.
Pasien menunjukkan
peningkatan jumlah urin secara bertahap, disertai tanda perbaikan glumerulus.
Deuresis dapat timbul mendadak atau urin bertambah tiap hari hingga mencapai
poliuria. Deuresis ini dapat diakibatkan oleh kadar ureum tinggi didalam
darah ( deuresis oasmotik). Disamping faal tubulus belum baik juga oleh
pengeluaran cairan tubuh yang berlebihan. Pada fase oliguri kadar natrium
menurun dalam darah karena retensi cairan dalam tubuh, tetapi pada fase
deuresis terjadi hiponatremia oleh karena banyak yang hilang karena tubulus
yang rusak. Nilai laboratorium berhenti meningkat dan akhirnya menurun. Tanda
uremik mungkin masih ada, sehingga penatalaksanaan medis dan keperawatan masih
diperlukan. Pasien harus dipantau ketat akan adanya dehidrasi selama tahap ini.
Jika terjadi dehidrasi, tanda uremik biasanya meningkat. Fase deuresis ini
berlangsung kira-kira 2 minggu.
3. Fase Penyembuhan.
Pase poliuria
akhirnya berkurang demikian juga gejala uremia. Dalam beberapa minggu faal
glomerulus dan tubulus membaik tetapi masih ada kelainan kecil. Yang paling
lama terganggu adalah daya konsentrasi urin. Fase ini merupakan tanda perbaikan fungsi ginjal dan
berlangsung selama 3 - 12 bulan.
Nilai
laboratorium:
ü
GFR normal :
75-165 ml/menit.
ü
Ureum darah :
20-40 mg %.
ü
Kretinin
: Lk= 0,6-1,3 mg
% Pr= 0,4-1,1
mg%.
4. MANIFESTASI KLINIK
a. gagal ginjal akut
Perubahan
haluaran urine (haluaran urin sedikit, mengandung darahØ dan
gravitasinya rendah (1,010) sedangkan nilai normalnya adalah 1,015-1,025)
ü
Peningkatan
BUN, creatininØ
ü
Kelebihan
volume cairanØ
ü
HiperkalemiaØ
ü
Serum calsium menurun, phospat meningkatØ
ü
Asidosis
metabolikØ
ü
AnemiaØ
ü
LetargiØ
ü
Mual
persisten, muntah dan diareØ
ü
Nafas berbau
urinØ
ü
Manifestasi
sistem syaraf pusat mencakup rasa lemah, sakit kepala, kedutan otot dankejangØ
b. gagal ginjal kronis
ü Gangguan pernafasan
ü Udema
ü Hipertensi
ü Anoreksia, nausea, vomitus
ü Ulserasi lambung
ü Stomatitis
ü Proteinuria
ü Hematuria
ü Letargi, apatis, penurunan konsentrasi
ü Anemia
ü Perdarahan
ü Turgor kulit jelek, gatal gatal pada kulit
ü Distrofi renal
ü Hiperkalemia
ü Asidosis metabolik
5. PEMERIKSAAN LAB.
ü
Urinalisis
ü
Kimia darah
ü
IVP, USG, CT
6. PENATALAKSANAAN.
1) Mempertahankan keseimbangan cairan
Penatalaksanaan
keseimbangan cairan didasarkan pada pengukuran berat badan harian, pengukuran
tekanan vena sentral, konsentrasi urin dan serum, cairan yang hilang, tekanan
darah, dan status klinis pasien. Masukan dan haluaran oral dan parenteral dari
urin, drainase lambung, feses, drainase luka, dan perspirasi dihitung dan
digunakan sebagai dasar untuk terapi penggantian cairan.
2) Penanganan hiperkalemia
Peningkatan kadar
kalium dapat dikurangi dengan hal-hal berikut :
ü
Glukosa,
insulin, kalsium glukonat, natrium bikarbonat (sebagai tindakan darurat
sementara untuk menangani heperkalemia)
ü
Natrium
polistriren sulfonat (kayexalate) (terapi jangka pendek dan digunakan bersamaan
dengan tindakan jangka panjang lain)
ü
Pembatasan
diit kalium
ü
Dialisis
3)
Menurunkan laju metabolism
ü
Tirah baring
ü
Demam dan
infeksi harus dicegah atau ditangani secepatnya
4)
Pertimbangan nutrisional
ü
Diet protein
dibatasi sampai 1 gram/kg selama fase oligurik.
ü
Tinggi
karbohidrat
ü
Makanan yang
mengandung kalium dan fosfat (pisang, jus jeruk, kopi) dibatasi, maksimal 2
gram/hari
ü
Bila perlu nutrisi
parenteral
5)
Merawat kulit
ü
Masase area
tonjolan tulang
ü
Alih baring
dengan sering
ü
Mandi dengan
air dingin
6)
Koreksi asidosis
ü
Memantau gas
darah arteri
ü
Tindakan
ventilasi yang tepat bila terjadi masalah pernafasan
ü
Sodium
bicarbonat, sodium laktat dan sodium asetat dapat diberikan untuk mengurangi
keasaman
7)
Dialisis
ü
Dialisis dapat
dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi gagal ginjal akut yang serius,
seperti hiperkalemia, perikarditis, dan kejang. Dialisis memperbaiki
abnormalitas biokimia, menghilangkan kecenderungan perdarahan, dan membantu
penyembuhan luka. Hal-hal berikut ini dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk
segera dilakukan dialisis :
ü
Volume
overload
ü
Kalium > 6
mEq/L
ü
Asidosis
metabolik (serum bicarbonat kurang dari 15 mEq/L)
ü
BUN > 120
mg/dl
ü
Perubahan
mental signifikan